Friday, August 24, 2007

Kebahagiaan, Sesuatu Yang Diputuskan Diawal

Seorang Kakek berumur 92 tahun yang mempunyai selera tinggi, percaya diri, dan bangga akan dirinya sendiri, yang selalu berpakaian rapi setiap hari sejak jam 8 pagi, dengan rambutnya yang teratur rapi meskipun dia buta, masuk ke panti jompo hari ini. Istrinya yang berumur 70 tahun baru-baru ini meninggal, sehingga dia harus masuk ke panti jompo.

Setelah menunggu dengan sabar selama beberapa jam di lobi, dia tersenyum manis ketika diberi tahu bahwa kamarnya telah siap. Ketika Kakek itu berjalan mengikuti penunjuk jalan ke elevator, si pengurus menggambarkan keadaan kamarnya yang kecil, termasuk gorden yang ada di jendela kamarnya.

"Saya menyukainya", katanya dengan antusias seperti seorang anak kecil berumur 8 tahun yang baru saja mendapatkan seekor anjing.
"Kakek kan belum melihat kamarnya", sahut si pengurus heran.
"Itu tidak ada hubungannya nak..", jawab Kakek tersebut sembari tersenyum.



"Kebahagiaan adalah sesuatu yang diputuskan di awal."

Apakah aku akan menyukai kamarku atau tidak, tidak tergantung dari bagaimana perabotannya diatur tapi bagaimana aku mengatur pikiranku. Aku sudah memutuskan menyukainya. Itu adalah keputusan yang kubuat setiap pagi ketika aku bangun tidur."

"Aku punya sebuah pilihan; aku bisa menghabiskan waktu di tempat tidur menceritakan kesulitan-kesulitan yang terjadi padaku karena ada bagian tubuhnya yang tidak bisa berfungsi lagi, atau turun dari tempat tidur dan berterima kasih atas bagian-bagian yang masih berfungsi."

"Setiap hari adalah hadiah, dan selama mataku terbuka, aku akan memusatkan perhatian pada hari yang baru dan semua kenangan indah dan bahagia yang pernah kualami dan kusimpan."

Hanya untuk kali ini dalam hidupku.
Umur yang sudah tua adalah seperti simpanan di bank, dan sekarang aku akan mengambil dari yang telah aku simpan selama ini.

Jadi, nasehatku padamu adalah untuk menyimpan sebanyak-banyaknya kebahagiaan di bank kenangan kita.

Terima kasih padamu yang telah mengisi bank kenanganku. Aku sedang menyimpannya.

Ingat-ingatlah 5 aturan sederhana untuk menjadi bahagia:
1. Bebaskan hatimu dari rasa benci
2. Bebaskan pikiranmu dari segala kekhawatiran
3. Hiduplah dengan sederhana
4. (give more)
5. (expect less)"

Read More......

Thursday, August 23, 2007

Cerita Senja: Kisah Sang Penebang Pohon

Seorang Penebang kayu hidup & tinggal bersama dengan istrinya. Sebagaimana layaknya seorang Penebang, tiap hari dia pergi ke hutan, menebang setiap pohon yang layak untuk dipotong, lalu menjualnya ke kota.

Suatu pagi, si Penebang bilang ke istrinya, "Nduk Ayu, aku akan tebang 10 pohon hari ini. Aku merasa, aku masih kuat untuk itu semua."

Sang istri merasa senang mendengar hal itu, terlebih panggilan "sayang" suaminya itu tak pernah sedikitpun berubah dari dulu, Nduk Ayu. Ia pun lalu melepas kepergian suaminya ke hutan. Betul saja, di senja hari, Penebang itu kembali dengan membawa uang hasil penjualan 10 pohon.

Hal itu terus berlaku dari hari ke hari. Pagi-pagi sekali, Penebang itu selalu bergegas pergi untuk menebang pohon. Namun, lama kemudian, hasil di dapat dirasakan makin menurun. Minggu berikutnya, si Penebang hanya mampu menghasilkan 8 pohon. Lalu 6 pohon di minggu berikutnya. Sampai akhirnya si Penebang ini cuma mampu menebang 3 pohon.

"Hmmh, kenapa bisa begini? Bukankan aku masih muda dan kuat?", keluh si Penebang.
"Untuk orang seusiaku, pasti akan ada lebih banyak pohon yang dapat ditebang" lanjutnya.


Sang istri hanya mendengarkan. "Hmm...atau apakah aku sudah mulai tua?", keluhnya lagi.

Istrinya yang semula diam, angkat bicara.

"Pohonku (begitu panggilnya..), kamu memang masih muda, & aku yakin kalau kamu bisa menebang lebih banyak lagi. Tapi, kamu juga harus ingat, kalau kapakmu-pun perlu kau asah sebelum pergi bekerja. Bukankah hanya akan sia-sia tenaga yang kamu miliki, jikalau yang digunakan kapak tumpul..!?"

"Bukankah begitu sayangku? Besok, kita mulai lebih baik lagi ya..."

Senyum terkembang, asa tak'kan gamang.

******

Guys, aku punya seorang yang memiliki karakter seperti Penebang kayu tadi. Punya kemauan, punya niat, tapi tetap di tempat. Perhatikanlah, hal itu tak beda dengan apa yang selalu kita harapkan dariNya. Banyak harap, tapi "lupa" untuk mengasah talenta yang diberikanNya. Lupa untuk beribadah, lupa untuk memperhatikan orang-orang di sekeliling kita, & lain sebagainya. Maaf, mungkin kata yang lebih tepat bukan "lupa", tapi "tidak peka".

Hehe...
Lebih dalam ya...

So, mari kita saling mengingatkan ok!
Saling memberi warna yang positif dalam kehidupan keberagaman kita.

Read More......

Wednesday, August 22, 2007

Cangkir?! Bukan... Kopinya Nak..

Sekelompok alumni sebuah universitas berkumpul dan mendatangi seorang Professor kampus mereka yang telah tua.

"Sore Prof.. Bagaimana kabar? Baik-baik saja kan?", tanya salah seorang diantaranya.
"Baik & sehat. Silakan masuk...", jawab Professor.

Setelah mengambil tempat duduk masing-masing, percakapanpun segera terjadi dan mengarah pada komplain tentang stess di pekerjaan dan kehidupan mereka. Salah seorang diantaranya adalah Blogger, dia mengeluh begitu beratnya. Professor tersebut menyela dan berkata, "Kopi cukup membuat rileks bukan?."

Setelah menawari tamu-tamunya kopi, Professor beranjak ke dapur dan kembali dengan poci besar berisi kopi dan cangkir berbagai jenis - ada yang dari porselin, plastik, gelas, kristal, gelas biasa, bahkan beberapa diantara gelas mahal dan beberapa lainnya sangat indah - dan mengatakan pada para mantan mahasiswanya untuk menuang sendiri kopinya.

Setelah semua mantan mahasiswanya mendapat secangkir kopi, sembari menebar senyum,

Professor itu berkata:

"Jika kalian perhatikan, semua cangkir yang indah dan mahal telah diambil, yang tertinggal hanyalah gelas biasa dan yang murah saja. Meskipun normal bagi kalian untuk mengingini hanya yang terbaik bagi diri kalian, tapi sebenarnya itulah yang menjadi sumber masalah dan stress yang kalian alami."

Pastikan bahwa cangkir itu sendiri tidak mempengaruhi kualitas kopi. Dalam banyak kasus, itu hanya lebih mahal dan dalam beberapa kasus bahkan menyembunyikan apa yang kita minum. Apa yang kalian inginkan sebenarnya adalah kopi, bukanlah cangkirnya, namun kalian secara sadar mengambil cangkir terbaik dan kemudian mulai memperhatikan cangkir orang lain."

Kemudian Professor tersebut meminta kepada mantan mahasiswanya untuk meletakkan cangkir yang mereka pegang masing-masing di meja di depan mereka. Setelah itu Professor melanjutkan kata-katanya:

"Sekarang coba kalian perhatikan dan renungkan hal ini.

Kehidupan bagai kopi, sedangkan pekerjaan, uang dan posisi dalam masyarakat adalah cangkirnya. Cangkir bagaikan alat untuk memegang dan mengisi kehidupan. Jenis cangkir yang kita miliki tidak mendefinisikan atau juga mengganti kualitas kehidupan yang kita hidupi. Seringkali, karena berkonsentrasi hanya pada cangkir, kita gagal untuk menikmati kopi yang Tuhan sediakan bagi kita.

Tuhan memasak dan membuat kopi, bukan cangkirnya.
Jadi nikmatilah kopinya, jangan cangkirnya."


1 kata dan saling menyahut dari para mantan mahasiswanya, "Ya.."

Read More......

Semua Tertular Kebahagiaan!

Seorang pemuda berangkat kerja dipagi hari.
Memanggil taxi dan naik.. "Selamat pagi Pak.." katanya menyapa Pak Sopir taxi terlebih dahulu. "Pagi yang cerah bukan?" sambungnya sambil tersenyum, lalu bersenandung kecil. Pak Sopir tersenyum melihat keceriaan penumpangnya, dengan senang hati ia melajukan taxinya.

Sesampainya ditempat tujuan..
Pemuda itu membayar dengan selembar 20 ribuan untuk argo yang hampir 15 ribu, "Kembaliannya buat bapak saja. Selamat bekerja ya Pak.." kata pemuda dengan senyum.

"Terima kasih" jawab Pak Sopir taxi dengan penuh syukur.
"Wah, aku bisa sarapan dulu nih.." pikirnya.

Kemudian Pak Sopir taxi menuju ke sebuah warung untuk sarapan pagi.


"Biasa Pak?" tanya si Mbok warung.
"Ya, biasa Mbok, nasi sayur. Tapi, pagi ini tolong ditambahkan sepotong ayam ya.." jawab Pak Sopir dengan tersenyum.

Ketika Pak Sopir membayar sarapan paginya, dia menambahkan seribu rupiah, "Buat jajan anaknya si mbok.." begitu katanya.

Dengan tambahan uang jajan seribu, pagi itu anak si Mbok berangkat ke sekolah dengan senyum lebih lebar. Dia membeli 2 buah roti pagi ini, yang akan diberikannya pada temannya yang tidak punya bekal.

Begitulah..
Dongeng ini berlanjut dan terus berlanjut dengan hal-hal yang menyenangkan seperti diatas...

Bergulir laksana Bola Salju yang seperti yang sering kita lihat di TV. Keluarga Pak sopir bisa lebih bahagia hari itu, begitupun keluarga si mbok, teman-teman si anak, dan lain-lainnya.

Semua tertular kebahagiaan!

Kebahagiaan, seperti juga kesusahan, bisa menular kepada siapa saja disekitar kita. Kebahagiaan adalah sebuah pilihan...

Sudahkah kita menularkan kebahagiaan Hari ini?

Read More......

Sebuah Kepekaan

Helen Keller adalah seorang buta dan tuli pertama yang berhasil lulus pendidikan kesarjanaan. Ia lulus dari Radcliffe College pada 28 Juni 1904.

Kebutaan dan ketulian yang dideritanya tidak menghalangi Helen Keller untuk mengasah ketajaman kepekaannya dan menjadikannya sebagai seorang tokoh kemanusiaan yang pemikiran dan buah karya tulisnya menjadi inspirasi dan pembelajaran bagi banyak orang.

Ketajaman kepekaannya, salah satunya, bisa dilihat dari apa yang pernah dia katakan: "It is terrible thing to see and have no vision". Menurut Helen, asal melihat dan benar-benar melihat adalah dua hal yang berbeda.

Benar-benar melihat dengan tingkat kepekaan yang tinggi, merupakan "skill" yang diperlukan untuk bertarung di medan bisnis zaman ini. "Skill" tersebut bisa menjadi motivasi pengembangan seorang eksekutif. Tidak jarang para eksekutif menjadi tumpul "skill" melihatnya hanya gara-gara

terbelenggu rutinitas. Mengakibatkannya gagal untuk melihat dan memahami detil atau petunjuk-petunjuk yang lain dalam menjalankan tugasnya.

Dalam bisnis situasinya sangat mirip. Peluang-peluang kecil yang ada disekeliling kita seringkali terlewatkan begitu saja. Kita tidak berdaya memanfaatkannya. Hal ini semata-mata karena kita tidak bisa melihatnya dengan penuh kepekaan, seperti seorang buta yang melihat cahaya rembulan. Kita tidak pandai menyiasatinya.

Ada pepatah Cina kuno yang mengatakan, hanya orang buta yang dapat menikmati cahaya yang sesungguhnya. Seorang guru saya pernah mengajarkan filosofi yang sama, kadang untuk bisa peka dan sensitif, kita harus bisa memposisikan diri dalam situasi "tidak mampu". Bagi seorang yang menderita tuli, bisa mendengar suara air yang menetes saja sudah menjadi musik yang paling indah. Sama pula dengan orang buta yang bisa melihat rembulan. Pasti akan indah luar biasa. Tapi, bagi kita yang serba melihat dan mendengar, seringkali hal-hal kecil itu lewat begitu saja.

Berikut adalah contoh-contoh kecil tentang kepekaan dan perlunya mengasah kepekaan:

1. Dimalam hari ketika sedang asyik-asyiknya menonton acara kesukaan anda di televise, tiba-tiba "pet" listrik padam seketika. Maka sensasi yang datang tiba-tiba dan anda rasakan adalah kegelapan total. Ada dua hal yang bisa menjadi reaksi anda pada saat itu. Kalau panik, anda akan berteriak-teriak minta senter atau meraba-raba untuk mencari dan menyalakan lilin. Tapi sebaliknya, kalau anda tenang, dalam beberapa menit kemudian, samar-samar anda bisa melihat suasana sekeliling. Sinar yang sangat redup dan lemah, entah itu pantulan dari cahaya lampu mobil yang kebetulan lewat, sinar bulan, atau lampu jalan, akan menjadi berkah dan rahmat dalam situasi kegelapan semacam itu. Tepat seperti pepatah Cina kuno diatas.

2. Kita lihat usaha-usaha kecil disekeliling kita yang mungkin sepele, misalnya warung Tegal, foto studio dan foto copy, bengkel motor, wartel dan warnet, service AC, salon rambut dan banyak lagi. Bidang-bidang itu dikerjakan oleh entrepreneur sejati, dengan tekun dan sepenuh hati. Mereka sukses. Nah kalau kita pelajari otobiografi mereka, satu demi satu terlihat, bahwa titik awal mereka seringkali mirip dengan “orang buta yang memanfaatkan sinar rembulan . Tidak jarang titik awal mereka adalah saat-saat ketika mereka sedang tidak berdaya dan mendekati putus asa.

Manusia adalah mahluk adaptive. Kalau mau manusia mempunyai kekuatan yang menakjubkan, bahkan dirinya sendiri akan terkagum-kagum, untuk menjadi "super".

Jadi, jangan pernah takut menjadi orang buta. Yang penting, anda harus cerdas dan peka memanfaatkan secercah sinar. Tanpa harus peduli betapa lemahnya sinar itu sekalipun. Janganlah memandang enteng segala hal yang kelihatannya remeh, tapi bisa menjadi kunci solusi. Kadang-kadang kita harus tuli untuk bisa menikmati sebuah musik yang indah.

Read More......

Kue? Aku Bersyukur Padamu Tuhan..

Kadang kita bertanya dlm hati & tak jarang menyalahkan Tuhan, "Apa yg telah saya lakukan sampai saya harus mengalami ini semua ?" atau "Kenapa Tuhan membiarkan ini semua terjadi pada saya ?"

Begini penjelasan yang dituturkan lewat analogi kecil sebuah percakapan ibu & anaknya.

Seorang anak memberitahu ibunya kalau segala sesuatu tidak berjalan seperti yang dia harapkan. Dia mendapatkan nilai jelek dalam rapor, putus dengan pacarnya, dan sahabat terbaiknya pindah ke luar kota.

Saat itu ibunya sedang membuat kue, dan menawarkan apakah anaknya mau mencicipinya, dengan senang hati dia berkata, "Tentu, aku suka roti ibu!"

"Nih, cicipi mentega ini," kata Ibunya menawarkan.
"Yups," ujar anaknya.
"Bagaimana dengan telur mentah ?"
"Ibu bercanda kan.."
"Mau coba tepung terigu atau baking soda ?"
"Buu, semua yang ibu tawarin setelah mentega itu bukannya tidak pantas dicoba.."

Lalu Ibunya menjawab, "Ya, semua itu tadi memang kelihatannya tidak enak jika dilihat satu per satu. Tapi jika dicampur jadi satu melalui satu proses yang benar, akan menjadi kue yang enak."


Tuhan bekerja dengan cara yang sama seperti penuturan ibu tersebut kepada anaknya.

Seringkali kita bertanya kenapa Dia membiarkan kita melalui masa-masa yang sulit dan tidak menyenangkan. Tapi Tuhan tahu jika Dia membiarkan semuanya terjadi satu per satu sesuai dengan rancanganNya, segala sesuatunya akan menjadi sempurna tepat pada waktunya. Kita hanya perlu percaya proses ini diperlukan untuk menyempurnakan hidup kita.

Bisakah kita rasakan kalau Tuhan teramat sangat mencintai kita?
Coba perhatikan hal-hal yang sederhana sebagai contoh.

Tuhan mengirimkan bunga setiap musim semi, sinar matahari setiap pagi. Setiap saat kita ingin bicara, Dia akan mendengarkan. Dia ada setiap saat kita membutuhkanNya, Dia ada di setiap tempat, dan Dia memilih untuk berdiam di hati kita.

Bersyukurlah atas semua anugrahnya meski kadang tersurat dalam hal pahit sekalipun. Percayalah, dalam jalanNya semua itu indah pada waktunya..

Read More......

Bagian Tubuh Yang Paling Penting

Ibuku selalu bertanya padaku apa bagian tubuh yang paling penting. Bertahun-tahun, aku selalu menebak dengan jawaban yang aku anggap benar.

Ketika aku muda, aku pikir suara adalah yang paling penting bagi kita sebagai manusia, jadi aku jawab, "Telinga, Bu." Jawabnya, "Bukan. Banyak orang yang tuli. Tapi, teruslah memikirkannya dan aku menanyakanmu lagi nanti."

Beberapa tahun kemudian sebelum dia bertanya padaku lagi.
Sejak jawaban pertama, kini aku yakin jawaban kali ini pasti benar.

Jadi, kali ini aku memberitahukannya, "Bu, penglihatan sangat penting bagi semua orang, jadi pastilah mata kita." Dia memandangku dan berkata, "Kamu belajar dengan cepat, tapi jawabanmu masih salah karena banyak orang yang buta."

Gagal lagi, aku meneruskan usahaku mencari jawaban baru dan dari tahun ke tahun, Ibu terus bertanya padaku beberapa kali dan jawaban dia selalu, "Bukan. Tapi, kamu makin pandai dari tahun ke tahun, anakku."

Akhirnya tahun lalu, kakekku meninggal.

Semua keluarga sedih. Semua menangis. Bahkan, ayahku menangis. Aku sangat ingat itu karena itulah saat kedua kalinya aku melihatnya menangis. Ibuku memandangku ketika tiba giliranku untuk mengucapkan selamat tinggal pada kakek.

Dia bertanya padaku, "Apakah kamu sudah tahu apa bagian tubuh yang paling penting, sayang?" Aku terkejut ketika Ibu bertanya pada saat seperti ini. Aku sering berpikir, ini hanyalah permainan antara Ibu dan aku.

Ibu melihat kebingungan di wajahku dan memberitahuku, "Pertanyaan ini penting. Ini akan menunjukkan padamu apakah kamu sudah benar-benar "hidup". Untuk semua bagian tubuh yang kamu beritahu padaku dulu, aku selalu berkata kamu salah dan aku telah memberitahukan kamu kenapa. Tapi, hari ini adalah hari di mana kamu harus belajar pelajaran yang sangat penting."

Dia memandangku dengan wajah keibuan. Aku melihat matanya penuh dengan air mata. Dia berkata, "Sayangku, bagian tubuh yang paling penting adalah BAHUmu."

Aku bertanya, "Apakah karena fungsinya untuk menahan kepala?"

Ibu membalas, "Bukan, tapi karena bahu dapat menahan kepala seorang teman atau orang yang kamu sayangin ketika mereka menangis. Kadang-kandang dalam hidup ini, semua orang perlu bahu untuk menangis. Aku cuma berharap, kamu punya cukup kasih sayang dan teman-teman agar kamu selalu punya bahu untuk menangis kapan pun kamu membutuhkannya. "

Akhirnya aku tahu, apa makna yang tidak tersurat dari pertanyaan ibuku tentang bagian tubuh yang paling penting, dan itu adalah ... (ada yang mau menebak....?!?)

...
...
...
Tidak menjadi orang yang mementingkan diri sendiri, tapi simpati terhadap penderitaan yang dialami oleh orang lain.


Orang akan melupakan apa yang kamu katakan...
Orang akan melupakan apa yang kamu lakukan...
Tapi, orang TIDAK akan pernah lupa bagaimana kamu membuat mereka berarti.

Read More......