Seorang Penebang kayu hidup & tinggal bersama dengan istrinya. Sebagaimana layaknya seorang Penebang, tiap hari dia pergi ke hutan, menebang setiap pohon yang layak untuk dipotong, lalu menjualnya ke kota.
Suatu pagi, si Penebang bilang ke istrinya, "Nduk Ayu, aku akan tebang 10 pohon hari ini. Aku merasa, aku masih kuat untuk itu semua."
Sang istri merasa senang mendengar hal itu, terlebih panggilan "sayang" suaminya itu tak pernah sedikitpun berubah dari dulu, Nduk Ayu. Ia pun lalu melepas kepergian suaminya ke hutan. Betul saja, di senja hari, Penebang itu kembali dengan membawa uang hasil penjualan 10 pohon.
Hal itu terus berlaku dari hari ke hari. Pagi-pagi sekali, Penebang itu selalu bergegas pergi untuk menebang pohon. Namun, lama kemudian, hasil di dapat dirasakan makin menurun. Minggu berikutnya, si Penebang hanya mampu menghasilkan 8 pohon. Lalu 6 pohon di minggu berikutnya. Sampai akhirnya si Penebang ini cuma mampu menebang 3 pohon.
"Hmmh, kenapa bisa begini? Bukankan aku masih muda dan kuat?", keluh si Penebang.
"Untuk orang seusiaku, pasti akan ada lebih banyak pohon yang dapat ditebang" lanjutnya.
Sang istri hanya mendengarkan. "Hmm...atau apakah aku sudah mulai tua?", keluhnya lagi.
Istrinya yang semula diam, angkat bicara.
"Pohonku (begitu panggilnya..), kamu memang masih muda, & aku yakin kalau kamu bisa menebang lebih banyak lagi. Tapi, kamu juga harus ingat, kalau kapakmu-pun perlu kau asah sebelum pergi bekerja. Bukankah hanya akan sia-sia tenaga yang kamu miliki, jikalau yang digunakan kapak tumpul..!?"
"Bukankah begitu sayangku? Besok, kita mulai lebih baik lagi ya..."
Senyum terkembang, asa tak'kan gamang.
******
Guys, aku punya seorang yang memiliki karakter seperti Penebang kayu tadi. Punya kemauan, punya niat, tapi tetap di tempat. Perhatikanlah, hal itu tak beda dengan apa yang selalu kita harapkan dariNya. Banyak harap, tapi "lupa" untuk mengasah talenta yang diberikanNya. Lupa untuk beribadah, lupa untuk memperhatikan orang-orang di sekeliling kita, & lain sebagainya. Maaf, mungkin kata yang lebih tepat bukan "lupa", tapi "tidak peka".
Hehe...
Lebih dalam ya...
So, mari kita saling mengingatkan ok!
Saling memberi warna yang positif dalam kehidupan keberagaman kita.
Thursday, August 23, 2007
Cerita Senja: Kisah Sang Penebang Pohon
Posted by Hningswara at 1:40 PM
Labels: kapak, penebang kayu

