Wednesday, August 22, 2007

Sebuah Kepekaan

Helen Keller adalah seorang buta dan tuli pertama yang berhasil lulus pendidikan kesarjanaan. Ia lulus dari Radcliffe College pada 28 Juni 1904.

Kebutaan dan ketulian yang dideritanya tidak menghalangi Helen Keller untuk mengasah ketajaman kepekaannya dan menjadikannya sebagai seorang tokoh kemanusiaan yang pemikiran dan buah karya tulisnya menjadi inspirasi dan pembelajaran bagi banyak orang.

Ketajaman kepekaannya, salah satunya, bisa dilihat dari apa yang pernah dia katakan: "It is terrible thing to see and have no vision". Menurut Helen, asal melihat dan benar-benar melihat adalah dua hal yang berbeda.

Benar-benar melihat dengan tingkat kepekaan yang tinggi, merupakan "skill" yang diperlukan untuk bertarung di medan bisnis zaman ini. "Skill" tersebut bisa menjadi motivasi pengembangan seorang eksekutif. Tidak jarang para eksekutif menjadi tumpul "skill" melihatnya hanya gara-gara

terbelenggu rutinitas. Mengakibatkannya gagal untuk melihat dan memahami detil atau petunjuk-petunjuk yang lain dalam menjalankan tugasnya.

Dalam bisnis situasinya sangat mirip. Peluang-peluang kecil yang ada disekeliling kita seringkali terlewatkan begitu saja. Kita tidak berdaya memanfaatkannya. Hal ini semata-mata karena kita tidak bisa melihatnya dengan penuh kepekaan, seperti seorang buta yang melihat cahaya rembulan. Kita tidak pandai menyiasatinya.

Ada pepatah Cina kuno yang mengatakan, hanya orang buta yang dapat menikmati cahaya yang sesungguhnya. Seorang guru saya pernah mengajarkan filosofi yang sama, kadang untuk bisa peka dan sensitif, kita harus bisa memposisikan diri dalam situasi "tidak mampu". Bagi seorang yang menderita tuli, bisa mendengar suara air yang menetes saja sudah menjadi musik yang paling indah. Sama pula dengan orang buta yang bisa melihat rembulan. Pasti akan indah luar biasa. Tapi, bagi kita yang serba melihat dan mendengar, seringkali hal-hal kecil itu lewat begitu saja.

Berikut adalah contoh-contoh kecil tentang kepekaan dan perlunya mengasah kepekaan:

1. Dimalam hari ketika sedang asyik-asyiknya menonton acara kesukaan anda di televise, tiba-tiba "pet" listrik padam seketika. Maka sensasi yang datang tiba-tiba dan anda rasakan adalah kegelapan total. Ada dua hal yang bisa menjadi reaksi anda pada saat itu. Kalau panik, anda akan berteriak-teriak minta senter atau meraba-raba untuk mencari dan menyalakan lilin. Tapi sebaliknya, kalau anda tenang, dalam beberapa menit kemudian, samar-samar anda bisa melihat suasana sekeliling. Sinar yang sangat redup dan lemah, entah itu pantulan dari cahaya lampu mobil yang kebetulan lewat, sinar bulan, atau lampu jalan, akan menjadi berkah dan rahmat dalam situasi kegelapan semacam itu. Tepat seperti pepatah Cina kuno diatas.

2. Kita lihat usaha-usaha kecil disekeliling kita yang mungkin sepele, misalnya warung Tegal, foto studio dan foto copy, bengkel motor, wartel dan warnet, service AC, salon rambut dan banyak lagi. Bidang-bidang itu dikerjakan oleh entrepreneur sejati, dengan tekun dan sepenuh hati. Mereka sukses. Nah kalau kita pelajari otobiografi mereka, satu demi satu terlihat, bahwa titik awal mereka seringkali mirip dengan “orang buta yang memanfaatkan sinar rembulan . Tidak jarang titik awal mereka adalah saat-saat ketika mereka sedang tidak berdaya dan mendekati putus asa.

Manusia adalah mahluk adaptive. Kalau mau manusia mempunyai kekuatan yang menakjubkan, bahkan dirinya sendiri akan terkagum-kagum, untuk menjadi "super".

Jadi, jangan pernah takut menjadi orang buta. Yang penting, anda harus cerdas dan peka memanfaatkan secercah sinar. Tanpa harus peduli betapa lemahnya sinar itu sekalipun. Janganlah memandang enteng segala hal yang kelihatannya remeh, tapi bisa menjadi kunci solusi. Kadang-kadang kita harus tuli untuk bisa menikmati sebuah musik yang indah.